Kubu Raya post author Kiwi 01 September 2026

Air Danau St. Petrus Menyusut, Kepedulian Bruder Steph Menjaga Rumah Pelangi Tak Pernah Surut di Tengah Bahaya Karhutla dan Kemarau

Photo of Air Danau St. Petrus Menyusut, Kepedulian Bruder Steph Menjaga Rumah Pelangi Tak Pernah Surut di Tengah Bahaya Karhutla dan Kemarau

KUBU RAYA, SP - Di tengah kemarau panjang yang membuat sebagian wilayah Kalimantan Barat mulai mengering dan rentan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), langkah seorang Bruder menyusuri kawasan konservasi Rumah Pelangi terasa lebih dari sekadar pemantauan.

Di kawasan hutan alam yang berada di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya itu, Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) kembali memastikan kawasan konservasi tetap terjaga.

Danau St. Petrus yang berada di dalam kawasan Rumah Pelangi menjadi salah satu titik yang diperhatikannya. Permukaan air danau memang mengalami penyusutan akibat kemarau panjang, tetapi belum sampai mengering.

Bagi Bruder Steph, begitu ia akrab disapa, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa alam membutuhkan perhatian lebih ketika musim kemarau datang.

“Harus dalam pemantauan ekstra, karena sebagian gambut dalam kawasan sudah mulai kering,” kata Bruder Steph, Minggu (30/8/2026).

Menjaga Air, Menjaga Kehidupan

Kemarau tidak hanya membuat udara terasa lebih panas. Ketika permukaan air danau mulai turun dan tanah gambut semakin kering, ancaman kebakaran pun meningkat.

Kondisi itulah yang membuat Bruder Steph tetap memantau kawasan Rumah Pelangi. Baginya, menjaga hutan tidak dapat dipisahkan dari menjaga air.

Danau St. Petrus bukan hanya bagian dari keindahan kawasan konservasi. Keberadaan air di tengah ekosistem hutan memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, terutama ketika musim kemarau berlangsung panjang.

Di sekitar kawasan Rumah Pelangi, sempat terjadi kebakaran kecil pada area semak di pinggir Jalan Trans Kalimantan yang menjadi akses menuju kawasan tersebut. Api berhasil dipadamkan dengan bantuan masyarakat sebelum meluas.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla dapat muncul dari hal sederhana. Bahkan puntung rokok yang dibuang sembarangan diduga menjadi pemicu kebakaran tersebut.

Bagi Bruder Steph, kejadian seperti itu tidak boleh dianggap sepele. Satu sumber api di tengah vegetasi yang mengering dapat berubah menjadi ancaman serius apabila tidak segera ditangani.

Turun Langsung Memastikan Kondisi Rumah Pelangi

Kekhawatiran terhadap kondisi Rumah Pelangi sebelumnya sempat muncul setelah beredar informasi yang menyebutkan Danau St. Petrus mengering dan kawasan Rumah Pelangi terbakar.

Bruder Steph bersama anggota Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), yakni Mas Tomo, Viola, dan Chalista, kemudian turun langsung mengecek kondisi kawasan.

Hasil pemantauan menunjukkan informasi tersebut tidak sepenuhnya benar.
Air Danau St. Petrus memang mengalami penurunan akibat kemarau, tetapi belum mengering. Begitu pula dengan kebakaran. Api hanya membakar sebagian kecil semak di sekitar pinggir Jalan Trans Kalimantan dan berhasil dipadamkan oleh warga.

“Siang tadi saya bersama Mas Tomo, Viola, dan Chalista, anggota FRKP, mengecek informasi yang mengatakan bahwa air danau di Rumah Pelangi Gunung Benuah kering dan terjadi kebakaran di area Rumah Pelangi. Ternyata informasi tersebut tidak benar,” ungkap Bruder Steph.

“Air danau hanya berkurang, tidak sampai kering, dan itu biasa terjadi ketika kemarau. Demikian juga soal kebakaran. Memang ada sedikit semak yang terbakar di pinggir Jalan Trans Kalimantan yang dekat menuju area Rumah Pelangi,” lanjutnya.

Bagi Bruder Steph, turun langsung ke lapangan merupakan bagian dari kepedulian. Informasi tentang kondisi lingkungan tidak cukup hanya didengar atau dibaca. Kondisi sebenarnya harus dilihat dan dipastikan.

Dari Lahan Gersang Menjadi Hutan Kehidupan

Rumah Pelangi sendiri memiliki perjalanan panjang dalam upaya konservasi lingkungan di Kalimantan Barat.

Kawasan hutan yang luasnya sekitar 100 hektare tersebut dirintis sejak sekitar tahun 2000 oleh Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap bersama masyarakat setempat.

Kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan kemudian dikembangkan menjadi ruang konservasi dengan berbagai jenis flora dan fauna.

Perjalanan tersebut kemudian mendapat pengakuan melalui penghargaan Kalpataru yang diterima Samuel Oton Sidin pada 2012.

Dalam perjalanan Rumah Pelangi, sosok Bruder Stephanus Paiman OFMCap juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan kawasan tersebut kepada masyarakat.
Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap bahkan pernah menyebut kontribusi Bruder Steph dalam memperkenalkan Rumah Pelangi kepada masyarakat luas.

“Stephanus Paiman sangat berjasa, promosi Rumah Pelangi sehingga dikenal luas,” kata Mgr Samuel Oton Sidin dalam sebuah kesempatan di Pontianak, 22 Mei 2026.

Kini, ketika kemarau kembali datang, pesan konservasi yang dibangun sejak bertahun-tahun lalu kembali diuji.

Hutan harus tetap dijaga. Air harus tetap dipertahankan. Dan masyarakat harus semakin sadar bahwa api sekecil apa pun dapat menjadi ancaman bagi kawasan konservasi.

Kepedulian yang Melampaui Batas Kawasan

Kepedulian Bruder Steph terhadap lingkungan tidak berhenti di Rumah Pelangi.

Bersama jaringan relawan kemanusiaan, ia juga mengikuti perkembangan kondisi sejumlah wilayah Kalimantan Barat yang terdampak kemarau dan karhutla.

Perjalanan sejumlah anggota FRKP menuju Kapuas Hulu dan Ketapang memperlihatkan kondisi lingkungan yang semakin kering. Di beberapa lokasi, asap dan debu mengganggu jarak pandang. Sisa kebakaran juga terlihat di sejumlah titik perjalanan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemarau, kekeringan, karhutla, dan kualitas udara saling berkaitan.

Ketika air berkurang, lahan semakin mudah terbakar. Ketika hutan terbakar, asap mencemari udara. Ketika sungai dan danau menyusut, manusia dan satwa yang bergantung pada sumber air ikut terdampak.

Karena itu, Bruder Steph mengajak masyarakat untuk tidak memperparah keadaan.

“Saya hanya mengajak dan mengimbau kita semua, seluruh masyarakat, untuk tidak melakukan pembakaran di saat kemarau panjang seperti sekarang ini. Mari kita berpikir bahwa bumi Kalbar, sebagai rumah kita bersama, sedang sakit akibat ulah manusia itu sendiri,” pesannya.
Danau St. Petrus dan Pesan Kemanusiaan

Di tepian Danau St. Petrus, pesan itu terasa sederhana tetapi mendalam. Air yang menyusut mengingatkan manusia bahwa sumber kehidupan memiliki batas.

Hutan yang mulai kering mengingatkan bahwa alam tidak selalu mampu pulih dengan sendirinya. Dan api kecil mengingatkan bahwa kelalaian manusia dapat membawa dampak besar.

Apa yang dilakukan Bruder Steph mungkin terlihat sederhana: datang, melihat, memantau, memastikan, lalu mengingatkan.

Namun, dari tindakan sederhana itu tersimpan sebuah karya kemanusiaan—menjaga alam agar tetap dapat menjadi ruang kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Rumah Pelangi bukan hanya tempat untuk menikmati ketenangan hutan atau keindahan Danau St. Petrus.

Kawasan tersebut merupakan pengingat bahwa lingkungan yang hari ini masih hijau dan memiliki sumber air adalah hasil dari kerja panjang orang-orang yang memilih untuk menjaga.

Di tengah kemarau panjang 2026, Bruder Steph kembali menunjukkan bahwa merawat alam juga merupakan bentuk pelayanan kepada sesama.

Sebab ketika hutan tetap terjaga, air memiliki tempat untuk bertahan. Ketika air tetap tersedia, kehidupan dapat terus berjalan.

Dan ketika api dicegah sebelum membesar, bukan hanya hutan yang diselamatkan, tetapi juga manusia, satwa, dan masa depan generasi berikutnya.

Dari Danau St. Petrus, pesan itu kembali mengalir, menjaga alam adalah menjaga kehidupan. Menjaga air adalah menjaga masa depan. Dan merawat bumi adalah bagian dari karya kemanusiaan. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda